Manusia tidak terlepas atas dimensi waktu. Di sana segala sesuatunya
berjalan secara relatif dan memberikan batasan-batasan yang tidak dapat
dijangkau lagi oleh makhluk, masa lalu. Dan ada pula jangkauan yang tidak
terpastikan oleh makhluk, masa depan. Kadang, masa lalu itu manis, tapi tidak
jarang sangat perih dan pedih. Banyak manusia yang akhirnya terbelenggu oleh
kejadian di masa lalu sehingga segala sesuatunya yang seharusnya berorientasi
pada masa depan malah semakin mundur karena dirinya terbelenggu oleh masa lalu
yang pahit dan sakit itu.
Ada beberapa macam cara bagi seseorang dalam menghadapi masa lalu.
Cara-cara ini merupakan sebuah metode yang kondisional dan sangat tergantung
oleh subyek pelakunya karena pada prinsipnya seseorang itu tidak memiliki
persepsi yang sama dalam mengejawantahkan sebuah konsep.
Cara pertama adalah dengan mengambil hikmah atas
kejadian atau peristiwa masa lalu. Terutama dalam peristiwa-peristiwa yang
dirasakan tidak menyenangkan oleh pelakunya. Peristiwa yang membawa kegundahan,
kegelisahan, kesakitan, kecemasan, kebingungan, ketakutan, kekhawatiran, dan
kesedihan. Peristiwa ini akan menjadikan si subyek mengambil hikmah atas
kejadian itu dan memanfaatkan pelajarannya untuk diterapkan di masa mendatang
jika menghadapi hal-hal serupa.
Cara kedua adalah dengan melupakan kejadian
masa lalu. Cara ini ibarat menulis di atas air atau menulis di atas pasir
pantai yang kemudian ombak menyapunya hingga hilang tak berbekas sama sekali.
Konsep ini memerlukan bantuan waktu yang tidak singkat untuk membuat subyek
menjadi lupa pada sebuah kejadian masa lalu. Melupakan adalah sebuah kerja
pasif karena seseorang yang berusaha melupakan sesuatu, tapi pikirannya bekerja
untuk melupakan hal itu, pada hakikatnya sedang mengingat kejadian itu lebih
kuat. Karena itu, hendaknya ia tidak menyibukkan pikirannya untuk melupakan,
tapi membuatnya rileks tanpa beban masa lalu.
Cara ketiga adalah dengan menyelesaikan masalah
yang timbul dari masa lalu itu. Biasanya masalah yang timbul muncul karena
adanya pihak lain di luar subyek yang tidak bisa menerima masa lalu dari si subyek.
Oleh karena itu, jalan yang lebih baik ditempuh oleh si subyek adalah dengan
menyelesaikan permasalahan masa lalu itu hingga tidak ada lagi ganjalan besar
yang menganggu jalan panjang masa depannya.
Cara keempat adalah dengan mengabaikan masalah di
masa lalu. Adalah hal tidak bijak jika seseorang mengabaikan sebuah masalah
besar di masa lalu dan menganggapnya tidak perlu diselesaikan. Namun, untuk
masalah yang kecil dan sepele, menyelesaikan semuanya adalah hal yang tidak
bijak pula karena akan menghabiskan masa dan usia secara sia-sia. Masalah yang
kecil dan banyak dapat diabaikan dan lebih memprioritaskan penyelesaian
masalah-masalah yang lebih besar.
Membiarkan diri dalam belenggu masa lalu adalah sebuah kelemahan dan kesempitan jiwa. Menguatkan dan meluaskannya untuk melepaskan belenggu masa lalu menjadi suatu keharusan jika seseorang ingin mantap berlari menyongsong masa depan bersama orang lain. Siapa pun itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar