Rasulullah saw. Bersabda; “Kesengsaraan yang paling sengsara ialah
miskin di dunia dan disiksa di akhirat.”
(HR. At Thabrani dan Asy Sihaab).
Kalau mau jujur, kita semua lahir kedunia
ini dalam keadaan miskin. Maksudnya miskin akidah, ilmu, pangan , temapat, dan
miskin segalanya. Bahkan selembar baju pun tidak ada yang melekat di tubuh kita
ketika kita lahir. Allah swt. Tidak menyematkan apa pun pada diri kita. Dia
memang maha adil. Seandainya saja seseorang dilahirkan dalam keadaan kaya,
niscaya dunia akan membosankan. Sebab, semua orang dalam kondisi mapan atau
tidak membutuhkan pertolongan orang lain. Selain itu, tentu saja hal ini sangat
menyalahi kodrat manusia sebagai insan sosial yang harus berhubungan dengan
makhluk lainnya.
Adanya kemiskinan bukanlah harga mati dari
Sang Pencipta Alam. Miskin berarti tidak mepunyai apa pun yang patut
dibanggakan. Namun di balaik kondisi ini terdapat pesan penting yang harus
dipahami dengan menggunakan akal nurani. Barangka kali kita patut bertanya pada
diri sendiri, apakah kita mau lahir dalam keadaan kekurangan? Kiranya hampir
semua orang akan menjawab “TIDAK” . pada kenyataannya, setiap orang keadaan miskinnya
berbeda-beda. Dari sinilah kita hendak beranjak
menghindarai kemiskinan.
PONDASI UTAMA
Prinsip
penting yang wajib dimiliki umat islam adalah akidah atau tauhid. Akidah
berasal dari kata ‘aqd yang berarti pengikatan. Secara syara’, akidah
yaitu iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan
kepada hari akhir serta kepada qadar (ketentuan)
yang baik maupun buruk. Semua rangkaian ini disebut dengan rukun iman. Adapun akidah
yang benar adalah pondasi utama bagi bangunan agama serta merupakan syarat
syahnya amal.
Dalam
pengertian yang lebih luas, akidah artinya kepercayaan kita kepada Allah swt.
Sebagai satu-satunya dzat yang patut dijadikan sandaran. Tauhid merupakan dasar
bagi seorang muslim untuk menjalankan perintah-Nya dan meninggalakan
larangan-Nya. Karena itulah perhatian Nabi Muhammad saw. Selama 13 tahun di
makkah yang pertama kali adalah mengajarkan tauhid sekaligus pelusuran akidah.
Apabila
seorang muslim tidak memiliki keyakinan
yang penuh dan utuh terhadap keberadaan Sang Pemilik Alam, maka bisa di
mungkinkan dia akan merasakan keraguan dalam melaksanakan ajaran agama. Sebab
miskin akidah bisa menyebabkan seorang muslim kepada kekufuran, sebagaimana
hadist Nabi yang menegaskan bahwa. “Hampir
saja kemiskinan (kemiskinan jiwa dan hati) berubah menjadi kekufuran.” (HR. At
Thabrani)
Oleh
karena itu, cara yang harus di tempuh seseorang agar tidak miskin akidah ialah
memahami seluruh alam beserta isinya serta mengenal penciptanya melalui
perenungan yang matang dan mendalam. Mempelajari ilmu tauhid secara benar sejak
kecil kepada orang yang menguasai ilmunya. Sebab bagi seorang muslim tidak ada harta yang lebih mahal yang hendak
diwariskan kepada anak cucu ketrunannya selain akidah Islam.
Kita
harus sadar bahwa hidup ini adalah proses atau belajar menjadi. Artinya selama
kita masih menginjak bumi ini, berarti kita masih diberi kesempatan untuk
belajar. Betapa terhormatnya orang-orang yang penuh dengan ilmu. Mereka
mendapat perhatian dan tempat tersendiri dari Allah swt. Seperti di tegaskan
dalam firman-Nya; “...Niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mujaadalah: 11).
Islam
memang tidak melarang umatnya untuk mejadi kaya atau memiliki materi yang
banyak. Namun juga mengingatkan agar kita mesti melalui jalur yang halal untuk
mendapatkannya.
Kekurangan
harta bukan menjadi alasan bagi seorang untuk mempertebal akidah dan menimba
ilmu. Miskin harta dapat membuat kita tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup,
sehingga mudah terombang-ambing. Misalnya menjadi pengemis, pengangguran atau
gelandangan yang hidup dijalanan tanpa arah tujuan.
Kemiskinan
yang melanda kita semua aspek kehidupan memang menjadi masalah serius bagi umat
islam. Sejarah telah membuktikan, bahwa perjuangan dan kejayaan kaum muslimin
bisa dicapai setelah mereka memenuhi jasad dan ruhnya dengan tauhid yang utuh,
ilmu yang sempurna serta harta yang cukup. Jika kita miskin harta, jangan
sampai larut dalam kesedihan. Sebab harta sifatnya hanya sementara dan akan
musnah. Namun apabila ita miskin akidah dan kering ilmu, memang sudah
selayaknya kita merenungi hal ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar