Jumat, 04 Oktober 2013

MENGHINDARI KEMISKINAN




Rasulullah saw. Bersabda; “Kesengsaraan yang paling sengsara ialah miskin di dunia dan disiksa di akhirat.”  (HR. At Thabrani dan Asy Sihaab).
Kalau mau jujur, kita semua lahir kedunia ini dalam keadaan miskin. Maksudnya miskin akidah, ilmu, pangan , temapat, dan miskin segalanya. Bahkan selembar baju pun tidak ada yang melekat di tubuh kita ketika kita lahir. Allah swt. Tidak menyematkan apa pun pada diri kita. Dia memang maha adil. Seandainya saja seseorang dilahirkan dalam keadaan kaya, niscaya dunia akan membosankan. Sebab, semua orang dalam kondisi mapan atau tidak membutuhkan pertolongan orang lain. Selain itu, tentu saja hal ini sangat menyalahi kodrat manusia sebagai insan sosial yang harus berhubungan dengan makhluk lainnya.
Adanya kemiskinan bukanlah harga mati dari Sang Pencipta Alam. Miskin berarti tidak mepunyai apa pun yang patut dibanggakan. Namun di balaik kondisi ini terdapat pesan penting yang harus dipahami dengan menggunakan akal nurani. Barangka kali kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah kita mau lahir dalam keadaan kekurangan? Kiranya hampir semua orang akan menjawab “TIDAK” . pada kenyataannya, setiap orang keadaan miskinnya berbeda-beda. Dari sinilah kita hendak beranjak  menghindarai kemiskinan.
PONDASI UTAMA
        Prinsip penting yang wajib dimiliki umat islam adalah akidah atau tauhid. Akidah berasal dari kata ‘aqd  yang berarti pengikatan. Secara syara’, akidah yaitu iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan kepada hari akhir serta kepada qadar (ketentuan) yang baik maupun buruk. Semua rangkaian ini disebut dengan rukun iman. Adapun akidah yang benar adalah pondasi utama bagi bangunan agama serta merupakan syarat syahnya amal.
          Dalam pengertian yang lebih luas, akidah artinya kepercayaan kita kepada Allah swt. Sebagai satu-satunya dzat yang patut dijadikan sandaran. Tauhid merupakan dasar bagi seorang muslim untuk menjalankan perintah-Nya dan meninggalakan larangan-Nya. Karena itulah perhatian Nabi Muhammad saw. Selama 13 tahun di makkah yang pertama kali adalah mengajarkan tauhid sekaligus pelusuran akidah.
          Apabila seorang muslim  tidak memiliki keyakinan yang penuh dan utuh terhadap keberadaan Sang Pemilik Alam, maka bisa di mungkinkan dia akan merasakan keraguan dalam melaksanakan ajaran agama. Sebab miskin akidah bisa menyebabkan seorang muslim kepada kekufuran, sebagaimana hadist Nabi yang menegaskan bahwa. “Hampir saja kemiskinan (kemiskinan jiwa dan hati) berubah menjadi kekufuran.”  (HR. At  Thabrani)
          Oleh karena itu, cara yang harus di tempuh seseorang agar tidak miskin akidah ialah memahami seluruh alam beserta isinya serta mengenal penciptanya melalui perenungan yang matang dan mendalam. Mempelajari ilmu tauhid secara benar sejak kecil kepada orang yang menguasai ilmunya. Sebab bagi seorang muslim tidak  ada harta yang lebih mahal yang hendak diwariskan kepada anak cucu ketrunannya selain akidah Islam.
          Kita harus sadar bahwa hidup ini adalah proses atau belajar menjadi. Artinya selama kita masih menginjak bumi ini, berarti kita masih diberi kesempatan untuk belajar. Betapa terhormatnya orang-orang yang penuh dengan ilmu. Mereka mendapat perhatian dan tempat tersendiri dari Allah swt. Seperti di tegaskan dalam firman-Nya; “...Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mujaadalah: 11).
          Islam memang tidak melarang umatnya untuk mejadi kaya atau memiliki materi yang banyak. Namun juga mengingatkan agar kita mesti melalui jalur yang halal untuk mendapatkannya.
          Kekurangan harta bukan menjadi alasan bagi seorang untuk mempertebal akidah dan menimba ilmu. Miskin harta dapat membuat kita tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup, sehingga mudah terombang-ambing. Misalnya menjadi pengemis, pengangguran atau gelandangan yang hidup dijalanan tanpa arah tujuan.
          Kemiskinan yang melanda kita semua aspek kehidupan memang menjadi masalah serius bagi umat islam. Sejarah telah membuktikan, bahwa perjuangan dan kejayaan kaum muslimin bisa dicapai setelah mereka memenuhi jasad dan ruhnya dengan tauhid yang utuh, ilmu yang sempurna serta harta yang cukup. Jika kita miskin harta, jangan sampai larut dalam kesedihan. Sebab harta sifatnya hanya sementara dan akan musnah. Namun apabila ita miskin akidah dan kering ilmu, memang sudah selayaknya kita merenungi hal ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar